My Name is Soegianto

On My Birthday… Sebuah Kontemplasi

by on Feb.20, 2008, under Christianity, Church, Family, Life, Romance, Sharing, Thoughts

“Here is the story of the grass – sown, grown, blown, mown, gone; and the history of man isn’t much more” (C.Spurgeon)

ahhh hidup… Pada suatu siang, beberapa tahun yang silam, dalam sebuah retreat, seorang hamba TUHAN bertanya kepada jemaatnya, “bayangkan, pada saat pemakaman kamu, lalu ada orang-orang disekeliling kamu yang menghadiri pemakaman kamu…”, setelah hening sejenak dia kembali bertanya , “apa yang kamu harapkan dari mereka ketika mereka menghadiri pemakaman kamu..”.

Aku terhenyak, mencoba mencari jawaban di dalam pikiran yang tertekan oleh sebuah kenyataan suatu saat nanti aku akan tiada, terbawa oleh sebuah perasaan kematian yang kelam. “Aghh… sebuah kematian” sambil membayangkan orang-orang yang aku kasihi berdiri di sekelilingku, menghadiri pemakamanku, orang tuaku, kakak-ku, adik-ku, anak-anak ktb ku, adri, gatot, albert, ega, baskara, david, samuel, william, bobby, teman-teman sepelayananku, ria, jan, truly, niken.. ah dan banyak lagi.

Lagi-lagi, perasaan melankolis itu muncul lagi, dada terasa perih, dan mata terasa nanar menahan perasaan hati yang mendesak keluar melalui kantung air di kedua bola mataku.

Hamba TUHAN itu mencoba mencari jawaban di antara jemaatnya, kemudian tatapan matanya berhenti menatap kedua bola mataku. Dalam hitungan tidak sampai sepersepuluh detik, hamba TUHAN itu bertanya,”kamu, menurut kamu bagaimana?”

Segera aku tersadar dalam lamunanku, terdiam selama beberapa detik untuk mengalihkan dorongan hati terhadap air yg mulai berkumpul di kedua mataku kepada kata-kata yang mencerminkan suasana hati. “ehm, saya … ” kataku terbata-bata, “yang saya bayangkan adalah mereka akan menangis… ” <sela> “tetapi yang saya harapkan mereka bukan menangis karena aku meninggalkan mereka, tetapi apa yang telah kutinggalkan bagi mereka… ”

Agh, entah mengapa kata-kata itu yang terluncur begitu saja dari mulutku. Dan meskipun tahun-tahun kejadian itu sudah berlalu lama entah mengapa hal itulah yang tetap tinggal dalam kontemplasiku pada saat aku membaca tulisan C.Spurgeon.

Satu hal yang aku bawa dalam doa, “TUHAN, ampunilah aku… kalo dalam kehidupanku aku gagal melakukan ini. TUHAN, jangan biarkan tangisan mereka nantinya akan sesuatu yang buruk yang kutinggalkan bagi mereka, tetapi suatu nilai yang berharga yang tidak lekang oleh waktu dan yang akan diam di dalam hati mereka selama jantung mereka berdenyut sampai pertemuan berikutnya di dalam kekekalan…”

Ngak kerasa… usia bertambah dan melaju seiring dengan berlalunya waktu… Ada banyak hal yang dipikirkan, berkelana di dalam waktu yang takkan pernah kembali… satu hal yang terlintas dan tinggal diam… rasa Syukur dan Hormat kepada YHWH, TUHAN yang hidup, yang saya kenal melalui perantaraan anakNYA yang Tunggal, Yesus Kristus, Juruselamat dan kepada Roh Kudus atas pemeliharaannya. Bagaimana tidak bersyukur, 27 tahun dibentuk didalam banyak hal… dalam satu percakapan beberapa tahun lalu di jalanan county Saitama, Jepang, dengan kakak tercinta, Soetrisno, dia mengungkapkan begitu herannya pemeliharaan TUHAN dalam pembentukan melalui keluarga yg berbeda, unik, tidak biasa. Sempat termenung menatap mata dari kakak tercinta, menghela nafas dan mengamini kata-kata tersebut, sungguh sangat heran engkau membentuk orang-orang yang mau belajar takut akan Engkau…

Maka biarlah hari ini saya mengucap syukur, hari ini saya bersyukur untuk papa tercinta yang sudah mendidik dan mendoakan aku sampai aku bisa berdiri pada umur 27 tahun ini. Maka ketika saya bertemu dia pagi ini aku katakan itu. Saya bersyukur untuk mama-ku dengan kasihnya yang melimpah hari demi hari, begitu melimpahnya sampai-sampai saya kehabisan kata-kata untuk mendefinisikannya, terima kasih untuk makanan yang selalu dibawakan sehingga saya bisa tetap makan masakan rumah meskipun jauh dari rumah, terima kasih untuk perhatian yang diberikan even pada saat saya rapuh, sakit dan tidak berdaya…. Pada akhirnya berterima kasih untuk papa dan mama yang TUHAN berikan… berterima kasih untuk keluarga yang TUHAN anugerahkan… Untuk Kakak-ku yang selalu jadi panutan, teladan bagi keluarga… Untuk Adik-ku yang mewarisi kelemahlembutan mama dan ketegasan papa, thanks untuk kasihmu pada kakakmu ini, TUHAN pasti sayang banget sama engkau..

Thanks juga untuk teman-teman yang mengucapkan… tadinya saya ingin mengganggap ini hari yang biasa… tapi kalianlah yang membuat hari ini tidak jadi biasa… jadi spesial days for me… sekali lagi terima kasih…

:, , , , , ,

Adiwara

Archives